Kamis, 14 Juni 2012

                 TUGAS MATA KULIAH ETIKA PROFESI
KECELAKAAN PESAWAT LUAR ANGKASA CHALLENGER

Disusun oleh:
Nama/NPM     : 1. Armada /36409196
                        : 2. Deni Mulyana/                                 
   Kelas            : 3 ID 05

                               KECELAKAAN PESAWAT LUAR ANGKASA CHALLENGER


Latar belakang
    Pesawat luar angkasa dibuat untuk menjadi kendaraan luncur yang dapat digunakan berulang kali. Kendaraan ini terdiri dari sebuah pengorbit, yang lebih mirip pesawat ukuran menengah (tidak termasuk mesin), 2 mesin pendorong berbahan padat, dan 1 mesin pendorong berbahan bakar cair. Pada saat tinggal landas, semua mesin pendorong dinyalakan dan mengangkat pengorbit itu keluar dari atmosfer bumi. Mesin pendorong berbahan bakar padat hanya digunakan pada awal penerbangan dan dilepaskan segera setelah tinggal landas, dijatuhkan kembali dengan parasut ke bumi, dan diangkat dari laut. Mesin pendorong berbahan bakar padat ini diisi kembali dengan bahan bakar dan digunakan lagi. Mesin pendorong berbahan bakar cair digunakan untuk menyelesaikan pengangkatan pesawat luar angkasa ke orbit, dan pada suatu titik mesin pendorong ini dilepaskan dan terbakar ketika masuk kembali ke atmosfer bumi. Mesin pendorong berbahan bakar cair adalah satu-satunya bagian kendaraan pesawat luar angkasa yang tidak dapat digunakan kembali ke atmosfer dan bergerak perlahan untuk mendarat.
    Kecelakaan pada januari 1986 ditimpakan pada kerusakan salah satu mesin pendorong berbahan bakar padat. Mesin pendorong berbahan bakar padat mempunyai kelebihan dalam hal kemampuannya menghantarkan gaya pendorong yang jauh lebih besar dalam setiap pon bahan bakar daripada mesin pendorong berbahan bakar cair, tetapi mesin ini memiliki kekurangan dalam hal kontrol yaitu jika bahan bakar telah menyala, tidak ada cara mematikan pendorong tenaga atau bahkan mengontrol jumlah gaya yang dihasilkan. Roket berbahan bakar cair dapat dikontrol dengan menutup aliran pasokan bahan bakar ke ruang pembakaran, atau bisa juga dimatikan dengan menghentikan aliran bahan bakar seluruhnya. Pada tahun 1974, national aeronautics and space administration (NASA) memberikan kontrak untuk merancang dan membuat mesin pendorong berbahan bakar pada untuk pesawat luar angkasa kepada Morton Thiokol adalah versi skala besar dari rudal titan, yang telah sukses digunakan selama bertahun-tahun untuk meluncurkan satelit. Rancangan ini diterima NASA pada tahun 1976. Roket padat terdiri dari beberapa buah silinder yang diisi pendorong    berbahan bakar padat dan diturnpuk yang satu di atas yang lainnya untuk mernbentuk mesin  pendorong yang lengkap. Perakitan silinder berisi pendorong ini dilakukan di pabrik Thiokol di Utah Silinder-silinder itu kemudian dikirimkan ke Pusat Luar Angkasa Kennedy (Kennedy Space Centre) di Florida untuk dirakit menjadi sebuah mesin pendorong yang lengkap.
      Aspek kunci rancangan mesin pendorong adalah sambungan (joint) yang mernpersatukan silinder-silinder pribadi tersebut yang, dikenal sebagai field joints, dan digambarkan secara   sisternatis pada Gambar l.1 a. Joint ini adalah tang and clevis joint (sambungan bergerigi dan   sambungan U), yang dikencangkan oleh 177 baut U. Sambungan ini dijepit oleh dua cincin O.  Cincin ini O dirancang untuk mencegah gas panas hasil pernbakaran pendorong berbahan bakar padat tidak merembes keluar. Cincin 0 ini terbuat dari sejenis karet sintetis dan tidak terlalu   tahan terhadap panas. Untuk mencegah agar gas panas tidak merusak cincin 0, suatu dempul  penahan panas diternpatkan pada sambungan, Pendorong tenaga Titan hanya mernpunyai satu cincin O pada  field joint. Cincin 0 kedua ditarnbahkan ke pendorong tenaga pesawat luar angkasa untuk memberikan tingkat keselamatan yang jauh lebih besar, tidak seperti Titan, pendorong tenaga ini akan digunakan untuk pesawat luar angkasa berawak.

Problem Awal Pada Pendorong Roket Padat
     Masalah pada rancangan  field joint telah diketahui jauh sebelum peluncuran Challenger. Ketika roket dinyalakan, tekanan internal  menyebabkan dindin pendorong tenaga mengembang keluar, menekan field joint.  Tekanan ini menyebabkan sarnbungan sedikit terbuka, suatu proses yang disebut "rotasi sambungan," digambarkan pada Gambar l.1b. Sambungan dirancang begitu rupa sehingga tekanan internal yang mendorong dernpul, memindahkan cincin O pertama ke dalam celah  ini, mernbantu menjepit sambungan, Selama uji coba pendorong tenaga pada tahun1977, Thiokol mengetahui bahwa masalah rotasi sambungan ini lebih patah daripada Titan dan membicarakannya dengan NASA. Perubahan desain dilakukan, terrnasuk peningkatan ketebalan cincin O, untuk mencoba mengontrol masalah ini.
     Uji coba lebih lanjut menunjukkan adanya masalah pada cincin O kedua, dan lebih banyak perubahan pun dilakukan untuk memperbaiki masalah ini. Pada bulan November 1981, setelah penerbangan pesawat luar angkasa yang kedua, sebuah perneriksaan pasca peluncuran terhadap field joint pendorong tenaga menunjukkan    bahwa cincin O rusak secara bertahap akibat gas panas selama peluncuran. Meskipun tidak ada kerusakan pada sambungan tersebut, ada beberapa keprihatinan terhadap situasi ini, dan Thiokol rnelihatnya pada penggunaan tipe dempul yang berbeda dan rnetode penerapan alternatif untuk menyelesaikan masalah ini. Terlepas dari situ usaha ini, sekitar setengah penerbangan pesawat luar angkasa sebelum kecelakaan Challenger sebetulnya mengalami beberapa tingkat kerusakan cincin O. Tentu saja, tipe uji coba dan desain   ulang ini bukan hal yang luar biasa dalam enjiniring. Jarang sekali pekerjaan dapat dilakukan dengan benar pada saat pertama, dan modifikasi terhadap desain asli sering kali diperlukan.
Harus ditunjukkan bahwa erosi cincin O bukanlah hal yang berbahaya. Karena pendorong tenaga roket padat hanya digunakan pada beberapa    menit pertama penerbangan, kita bisa sepenuhnya menerima rancangan sambungan dengan cincin o yang tererosi dengan terkontrol. Selama cincin 0 tidak terbakar seluruhnya sebelum pendorong tenaga padat kehabisan bahan bakar dan dilepaskan, rancangan ini aman. Meskipun demikian pesawat luar angkasa tidak dirancang dengan cara seperti ini, dan erosi cincin 0 adalah salah satu masalah yang dilontarkan para insinyur Thiokol.
     Kerusakan sambungan yang didokumentasikan pertama kali didapat setelah peluncuran pada 24 Januari 1985, yang terjadi selama cuaca yang sangat dingin. Penyelidikan pasca peluncuran terhadap pendorong tenaga rnenunjukkan adanya abu hitam dan oli di bagian luar pendorong tenaga, yang mengindikasikan bahwa gas panas dari pendorong tenaga telah meledakkan jepitan cincin O. Penemuan ini membangkitkan keprihatinan tentang elastisitas bahan cincin O pada suhu yang dingin. Thiokol melakukan tes terhadap kemampuan menekan    cincin 0 untuk mengisi sambungan dan menemukan bahwa kemampuan menekan cincin O tidak layak. Pada bulan Juli 1985, para insinyur Thiokol merancang ulang field joint tanpa  cincin O. Sebagai gantinya, mereka memakai batang baja, yang seharusnya rnempunyai kemampuan menahan gas panas yang lebih baik. Sayangnya, desain baru ini belum siap pada saat peluncuran Challenger di awal 1986 itu [Elliot, 1991].

IKLIM POLITIK
    Untuk sepenuhnya memahami dan menganalisis pengambilan keputusan yang terjadi dan mengakibatkan peluncuran fatal itu, penting juga untuk  mendiskusikan lingkungan politik yang melingkupi operasi NASA pada saat itu. Anggaran NASA ditentukan oleh Kongres, yang merasa tidak senang dengan penundaan proyek pesawat luar angkasa ini dan performa pesawat luar angkasa yang tidak mernenuhi perjanjian awal. NASA meminta anggaran pesawat luar angkasa dengan menyatakannya sebagai kendaraan luncur yang dapat diandalkan, tidak mahal untuk berbagai tujuan ilmu pengetahuan dan kornersial, terrnasuk peluncuran satelit komersial dan militer, NASA sudah menjanjikan bahwa pesawat luar angkasa itu dapat digunakan untuk penerbangan  yang cukup sering (beberapa penerbangan dalam setahun) dan kembali pulang dengan cepat dan mempunyai harga kompetitif bila dibandingkan dengan kendaraan luncur tradisionalyang tidak dapat digunakan kembali, NASA merasakan program ini mendesak dilakukan karena Badan Luar Angkasa Eropa (European Space Agency) sedang mengembangkan pesawat luar angkasa alternatif yang tampaknya lebih rnurah, yang berpotensi menyingkirkan pesawat luar angkasa NASA dari bisnis.
    Tekanan ini membuat NASA rnenjadwalkan sebuah rekor jumlah misi pada tahun 1986 untuk mernbuktikan pada Kongres bahwa program berjalan sesuai rencana. Meluncurkan    suatu misi pada bulan Januari 1986 adalah suatu keharusan, karena misi sebelumnya telah tertunda beberapa kali akibat cuaca dan kerusakan mekanik. NASA juga merasakan adanya tekanan untuk meluncurkan Chalenger sesuai dengan peluncuran pesawat luar angkasa berikutnya, yang membawa alat untuk meneliti komet Halley, dapat diluncurkan sebelum alat yang sama diluncurkan oleh Rusia. Ada tekanan politik tambahan untuk meluncurkan Chalenger sebelum persiapan upacara kenegaraan yang akan dating, dimana presiden Reagen berharap dapat membanggakan pesawat luar angkasa itu dan seorang astronot khusus-guru pertama yang pergi ke luar angkasa, Chirista McAuliffe dalam konteks pidatonya tentang pendidikan.

HARI-HARI SEBELUM PELUNCURAN
      Bahkan sebelum kece1akaan, peluncuran Challenger tidak berjalan sesuai   rencana, seperti yang diharapkan NASA.Tanggal peluncuran pertama harus dibatalkan akibat aliran udara dingin yang diperkirakan bergerak menuju daerah itu.Hal tersebut tidak terjadi, dan peluncuran seharusnya dapat dilaksanakan sesuai rencana.Tetapi peluncuran itu telah tertunda karena menunggu Wakil Presiden George Bush,yang akan menghadiri peluncuran itu.NASA tidak ingin melawan Bush(karena Bush adalah seorang pendukung kuat NASA), dengan menunda peluncuran akibat  cuaca buruk setelah beliau tiba.Peluncuran pesawat luar angkasa kemudian tertunda oleh kerusakan tombol penyala mikro peda mekanisme pengunci pintu.Ketika masalah ini terselesaikan,angin berubah arah dan sekarang bergerak ke daerah itu.Angin diperkirakan membawa cuaca yang sangat dingin ketempat peluncuran, dengan perkiraan suhu rendah pada 20°F pada saat peluncuran baru.
    Lantaran suhu yang dingin,NASA melakukan pemeriksan bersama semua kontraktor pesawat luar angkasa untuk menentukan apakah mereka memperkirakan adanya masalah dengan peluncuran pesawat luar angkasa pada suhu dingin. Alan McDonald, direktur Proyek Motor Roket Padat Thiokol, memperingatkan tentang masalah cuaca dingin yang dialami pendorong tenaga padat. Sore hari sebelum peluncuran yang dijadwal ulang, diadakan sebuah telekonferensi antara insinyur dan manjemen dari Kenedy Space Centre (Pusat Angkasa Luar Kenedy) , Marshall Space Flight Centre milik NASA di Hunstville, Alabama, dan Thiokol di Utah untuk membicarakan pengaruh-pengaruh yang mungkin terjadi akibat suhu dingin terhadap performa pendorong tenaga padat. Sepanjang telekonferensi ini, Roger Boisjoly dan Arnie Thompson, dua insinyur Thiokol yang mengerjakan rancangan mesin pendorong berbahan baker padat itu, memberikan presentasi selama satu jam mengenai dampak negative cuaca dingin terhadap masalah rotasi sambungandan penjempitan sambungan ole cincin O.
    Intinya adalah bahwa suhu terendah dimana suatu pesawat luar angkasa pernah diluncurkan adalah 53°F, pada tanggal 24 Januari 1985, ketika terjadi kebocoran gas pada cincin O. Suhu cincin O pada saat waktu peluncuran Challenger yang direncanakan keesokan paginya diperkirakan 29°F, jauh dibawah suhu yang pernah dialami NASA. Setelah presentasi kedua insinyur itu, Bob Lund, wakil presiden bidang tekhnik Morton Thiokol, mempresentasikan rekomendasinya dia mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada erosi cincin O yang cukup parah pada suhu 53°F dan peluncuran Challenger akan terjadi pada suhu yang jauh dibawahnya, dimana tidak tersedia data dan pengalaman sama sekali, NASA sebaiknya menunda peluncuran pesawat sampai suhu cincin O setidaknya mencapai suhu 53°F. Menariknya, dalam rancangan asli disebutkan bahwa pendorong tenaga seharusnya dapat beroperasi dengan baik pada suhu sebesar 31°F.
    Larry Mulloy, manajer proyek Pendorong Tenaga Roket Padat di Marshall dan pegawai NASA, dengan tepat menunjukkan bahwa data itu bukan merupakan suatu kesimpulan dan tidak setuju dengan insinyur-insinyur Thiokol. Setelah beberapa diskusi, Mulloy meminta pendapat Joe Kilminster, manajer teknik yang mengerjakan proyek ini, Kliminster mendukung rekomendasi insinyur rekannya.. Orang lain dari Marshall menunjukkan ketidaksetujuan mereka pada rekomendasi insinyur rekannya. Orang lain dari Marshall menunjukkan ketidaksetujuan mereka pada rekomendasi insinyur Thiokol, yang memaksa Kilminster menhentikan diskusi untuk beberapa menit. Boisjoly dan insinyur lainnya mengulangi kembali rekomendasinya pada pihak manajemen bahwa keputusan awal untuk tidak meluncurkan Challenger adalah keputusan yang benar.
    Fakta kunci yang akhirnya menggoyahkan keputusan ini adalah bahwa pada data yang tersedia, tampaknya tidak ada hubungan antara suhu dan derajat kebocoran gas yang mengerosi cincin O dalam peluncuran sebelumnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya tidak ada kecendrungan dalam data yang mengindikasikan bahwa peluncuran pada perkiraan suhu rendah tersebut tidak aman. Setelah melalui banyak diskusi , Jerald Mason, seorang manajer senior Thiokol, memandang Lund dan berkata, “Lepaskan topi insinyurmu dan pakailah topi manajemenmu,” ungkapan yang menjadi terkenal dalam diskusi etika enjiniring. Lund mengubah keputusan sebelumnya dan merekomendasika peluncuran dapat dilanjutkan. Rekomendasi baru ini meliputi indikasi bahwa ada peringatan keselamatan akibat cuaca dingin, tetapi bahwa data tidak konklusif dan peluncuran tetap direkomendasikan. McDonald, yang berada di Florida, terkejut atas rekomendasi ini dan mencoba meyakinkan NASA untuk menunda peluncuran, tetapi ia tidak berhasil.

PELUNCURAN
     Berlawanan dengan perkiraan cuaca, suhu pada dini hari peluncuran menunjukkan 8°F lebih dingin daripada suhu-suhu yang pernah  dialami pesawat luar angkasa sebelumnya. Sebenarnya ada akumulasi es yang cukup banyak pada tempat peluncuran dari penyemprot keamanan (safety shower) dan selang kebakaran yang diletakkan di luar untuk mencegah agar pipa tidak beku. Diperkirakan suhu field joint pendorong tenaga sebelah kanan di dekat ekor pesawat adalah 28°F.
    NASA selalu mendokumentasikan semua aspek peluncuran sebanyak mungkin. Salah satu pengawasan ini meliputi pemakaian kamera secara eksentif yang berfokus pada daerah penting wahana luncur. Salah satu kamera ini, yang menyorot pendorong tenaga sebelah kanan, merekam gumpalan asap yang terhembus dari field joint di dekat ekor pesawat segera setelah pendorong tenaga dinyalakan. Asap ini diperkirakan disebabkan oleh silinder baja pada bagian pendorong tenaga yang mengembang keluar dan menyebabkan  field joint berotasi. Tetapi, akibat suhu yang sangat dingin, cincin O tidak terpasang dengan benar. Dempul penahan panas juga begitu dingin sehingga tidak dapat nelindungi cincin O, dan gas panas terbakar melalui kedua cincin O. selanjutnya ditemukan bahwa kebocoran ini terjadi pada lebih dari 70° busur keliling cincin O.
    Dengan sangat cepat, field joint tertutup lagi dengan hasil pembakaran bahan bakar roket padat yang mebentuk semacam oksida bening pada sambungan. Formasi oksida ini menyebabkan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat gesekan angina yang sangat kuat yang menerpa pesawat sesaat sebelum penerbangan. Oksida yang sementara menutup field joint menyebar akibat tekanan yang disebabkan oleh gesekan angin. Sekarang sambungan terbuka kembali, dan gas panas terlepas dari pendorong tenaga padat. Karena pendorong tenaga ini melekat pada pendorong tenaga bahan bakar cair yang besar, api dari pendorong tenaga bahan bakar padat menjalar dengan sangat cepat dan membakar tangki luar. Bahan bakar cair tersulut dan pesawat luar angkasa Challenger itupun meledak menjadi bola api.

SETELAH CHALLENGER MELEDAK
     Akibat kecelakaan ini, program pesawat luar angkasa ditunda dan tinjauan seksama atas keselamatan pesawat luar angkasa pun dilaksanakan. Thiokol membentuk tim investigasi kegagalan pada 31 Januari 1986 yang melibatkan Roger Boisjoly. Juga ada banyak penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan ini baik kontraktor yang terlibat ( termasuk Thiokol  ) maupun oleh berbagai badan pemerintah. Sebagai bahan penyelidikan pemerintah , Presiden Reagan menunjuk sebuah komisi pita biru, dikenal dengan komisi Roger, diberi nama sesuai nama ketuanya. Komisi ini terdiri dari ilmuwan dan insinyur dari berbagi bidang. Mereka diminta mencari penyebab kecelkaan itu dan merekomendasikan korelasi-korelasi dalam program pesawat luar angkasa.
    Salah satu anggota komisi ini adalah Richard Feynman, seorang pemenang Nobel dalam bidang Fisika. Ia dapat menunjukkan kepada seluruh negeri apa yang salah dalam kecelakaan itu. Dalam demonstrasi yang ditayangkan berulang-ulang dalam program berita nasional, ia menunjukkan adanya masalah pada cincin O dengan mengambil sample dari bahan cincin O dan menekuknya. Kelenturan bahan pada suhu ruang itu menjadi bukti. Kemudian ia mencelupkannya dalam air es. Ketika Feynman menekuk cincin O itu sekali lagi, terlihat jelas bahwa kelenturan bahan cincin O itu telah sangat berkurang, sebuah demonstrasi yang sangat jelas tentang apa yang terjadi dengan cincin O pada tanggal peluncuran dalam cuaca dingin di Florida.
    SEbagai bagian dari dengar pendapat komisi, Roger Boisjoly dan Insinyur Thiokol lainnya diminta bersaksi. Boisjoly menyerahkan sejumlah salinan memo internal Thiokol dan laporan yang memuat perincian proses desain dan masalah – masalah  yang telah dihadapi kepada komisi. SEbenarnya , Thiokol berusaha menyembunyikan situasi sebenarnya, dan tindakan Boisjoly merusak usaha ini. Menurut Boisjoly, setelah tindakannya itu, ia dikucilkan oleh perusahaan, tanggung jawabnya untuk mendasin ulang sambungan dicabut, dan ia diperlakukan dengan buruk oleh manajemen Thiokol ( Noisjoly, 1191, dan Boisjoly, Curtis, and Mellicam, 1989 ).
    Akhirnya, suasana ini tidak dapat ditolerir lagi oleh Boisjoly, dan iapun mengundurkan diri dari jabatannya diThiokol. Sambungan itu didesain ulang, dan sejak itu sejumlah misi pesawat luar angkasa berhasil diluncurkan. Meskipun demikian, jadwal peluncuran ambisius yang sebenarnya ingin dilakukan NASA tak pernah terpenuhi. Pada tahun 2001, dilaporkan bahwa NASA telah mengahabiskan $5  juta untuk mempelajari kemungkinan memasang beberapa tipe system penyelamatan diri untuk melindungi awak pesawat luar angkasa ketika terjadi kecelakaan.Belum ada keputusan yang diambil. Kemungkinan-kemunkinan ini meliputi kursi lontar atau kapsul penyelamatan yang akan bekerja selama tiga menit pertama penerbangan. Fitur-fitur ini dimasukkan kedalam kendaraan luar angkasa berawak sebelumnya dan pada kenyataannya dipasang dalam pesawat luar angkasa sampai tahun 1982. Tetapi tida diketahui apakah sistem seperti ini dapat menyelamatkan astronot penumpang Challenger.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar